Hmmm… Tak tahu harus mulai dari mana dan mau membahas apa. Sebenarnya kemampuan menulis saya yang standarlah membuat yang membuat kebingungan di atas terjadi. Hehehe…
Ok, lanjut saja yah!!!
Saya ingin bercerita sedikit tentang diri saya. Saat ini, saya sedang menjalani pendidikan di Ilmu Komunikasi, yang seperti kita tahu bersama bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi adalah orang-orang yang seharusnya memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan tentu saja didukung oleh rasa percaya diri yang tinggi. Dan hal yang terakhir saya sebut tadi adalah hal yang sampai saat ini belum saya miliki, yang akhirnya juga membuat saya belum memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, terutama dalam bentuk lisan. Bayangkan, sekarang saya sudah memasuki semester 6 dan sampai saat ini saya masih saja tidak merasa pantas berada di jurusan ini. Tapi, apa boleh buat, sekali lagi karena tidak percaya diri itulah yang membuat saya pasrah dan tetap bertahan di sini alias tidak mau mencoba hal baru alias pindah jurusan atau sekalian pindah kampus…
Saya sadar bahwa banyak hal yang mengakibatkan hal itu terjadi dan semuanya hanya karena sikap dan perbuatan saya sendiri. Banyak kesempatan di depan mata yang tidak saya manfaatkan. Saya takut salah, yang mengakibatkan saya tidak berani mencoba. Sekali dua kali saya melakukannya, namun itu tidak cukup untuk membuat saya menjadi seorang yang percaya diri.
TAKUT SALAH!!! Mungkin itulah ‘kesalahan pemikiran yang besar’ yang pernah saya lakukan. Saya pernah bertanya pada seorang motivator muda Indonesia, Bong Chandra, melalui sebuah situs jejaring sosial tentang apa yang harus saya lakukan agar saya bisa percaya diri. Ia pun menjawab begini: “Miliki jam terbang dan jangan takut salah. Ingat, jika kita salah kita hanya malu beberapa menit saja.”
Nah, itu dia! Sekali lagi, kalau perlu saya garis bawahi, TAKUT SALAH!!! Meskipun hanya malu beberapa menit saja, namun rasanya seumur hidup, bahkan matipun rasanya masih akan diingat oleh orang lain. Jujur, saya sempat stress dan benar-benar putus asa menghadapi hal ini. Berulang kali, saat saya sedang merenung di kamar kost, saya menggumuli hal itu. Saya menangis! Ya, saya mengeluarkan air mata. Mungkin orang berpikir bahwa saya adalah seorang yang terlalu cengeng. Tidak, bukan itu! Saya menangis karena ingin melepaskan beban itu. Menangis karena ingin menghilangkan, walaupun mungkin hanya sedikit, rasa ‘sakit’ akibat tak mampunya saya menjadikan rasa percaya diri itu sebagai milik saya. Itulah mengapa judul tulisan saya ini seperti yang tertera di atas, Because I don’t have it yet!
Saya tetap berharap, Tuhan akan memberikan jalan untuk menemukan dimana sesungguhnya letak rasa percaya diri itu, untuk kuraih dan kujadikan milikku sebagai modal bagi masa depanku, yang jika Tuhan berkenan akan menjadi ‘cerah’. Amin….
*kamar08_sheila, 010211

Tidak ada komentar:
Posting Komentar