Lagu adalah salah satu bagian dari karya seni manusia yang berisi alunan nada dan syair.
Lagu merupakan sebuah hasil curahan hati dan pikiran yang dituangkan oleh penciptanya.
Melalui sebuah lagu, seseorang dapat bercerita apa saja yang ia alami, apa saja yang ia rasakan, dan apa saja yang ia lihat di sekelilingnya.
Dan lagu berikut ini terinspirasi dari kisah seseorang yang pernah mengalami dan merasakan penyesalan dalam hidupnya. ia telah melepas begitu saja 'sang pencipta sejuta kenangan indah' dalam hidupnya...
Salah satu kebiasaan saya saat sedang butuh hiburan di kost ialah memutar lagu or music dari list lagu-lagu di notebook saya, si Pico. Beberapa waktu yang lalu, saya lupa waktu itu mau cuci piring atau cuci pakaian, saya memutar beberapa lagu Barat. Saya pun memilih secara random dari sekian banyak file lagu di folder Western itu. Dan kebanyakan lagu yang saya tambahkan ke program Winamp adalah lagu-lagu yang belum pernah saya dengar.
Nah, di saat saya sedang asyik dengan kegiatanku di kamar mandi yang entah mencuci piring ataukah mencuci pakaian itu, saya pun mendengar satu lagu yang nada dan musiknya terdengar begitu enak di telinga. Saya pun buru-buru menghentikan kegiatanku, dan dengan tangan yang masih berbusa saya menghampiri si Pico untuk melihat judul lagu itu. Dan ternyata judulnya adalah I Can Only Imagine.
Ada kata-kata dalam lirik lagu ini yang juga membuat saya tertarik, yaitu Jesus dan Hallelujah, yang membuat saya menarik kesimpulan bahwa lagu ini adalah lagu rohani Kristen. Suara penyanyinya pun terdengar tidak asing di telinga.
Dan setelah saya mencari siapa pemilik suara merdu itu di internet, ternyata tak salah lagi, wanita yang menyanyikan lagu ini adalah Nikita, seorang penyanyi rohani yang cukup terkenal di Indonesia. Lagu ini ada di album Pelangi Sehabis Hujan yang dirilis pada tahun 2007.
Lirik lagunya begitu puitis. Maknanya pun begitu dalam, dimana manusia hanya bisa membayangkan bagaimana atau apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan saat TUHAN datang untuk ke dua kalinya ke dunia ini dan membawa manusia bersama-Nya ke tempat yang paling indah.
Sejak saat itu, lagu ini selalu menemani aktivitasku di kost. Mulai dari aktivitas di kamar mandi sampai aktivitas di tempat tidur, seperti membaca novel dan tidur tentunya. Hehehe
Nah, pengen tahu gimana liriknya? Check this out!!!
I Can Only Imagine
I can only imagine
What it will be like
When I walk
By your side
I can only imagine
What my eyes will see
When your face
Is before me
I can only imagine
[Chorus:]
Surrounded by Your glory, what will my heart feel
Will I dance for you Jesus or in awe of you be still
Will I stand in your presence or to my knees will I fall
Will I sing hallelujah, will I be able to speak at all
I can only imagine
I can only imagine
When that day comes
And I find myself
Standing in the Son
I can only imagine
When all I will do
Is forever
Forever worship You
I can only imagine
[Chorus]
I can only imagine [5x]
I can only imagine
When all I will do
Is forever, forever worship you
And buat yang belum punya lagunya dan berniat mendengar lagu ini, download aja di sini
Ternyata saya sanggup juga bangun di pagi hari yang indah tadi. Hehehe. Setelah berjuang sekuat tenaga dan sekuat-kuatnya mata saya, saya pun beranjak dari tempat tidur. Sebenarnya alarm HP saya pasang tepat pukul 06.30. Tapi karena keasyikan dengan mimpi saya tentang teman-teman SMA, saya pun berulang kali men-snooze-kan alarmnya. Dan sampailah pada pukul 07.30 dimana saya akhirnya menyanggupi tuntutan untuk bangun pagi.
Untuk diketahui, saya kembali mengalami insomnia tak tertahankan semalam, dan baru bisa tidur kira-kira jam setengah 4. Nah, karena merasa tidak cukup tidur dan sedikit kedinginan di pagi hari, saya pun menyalakan kompor dan memasak air yang akan dicampur dengan air dingin, untuk menjadi rekan mandi pagiku. (air panas+air dingin=air hangat, cocok mi toh??)hehehe
Namun, sambil menunggu air dipanaskan di atas api yang membara (lebai), saya pergi membeli lauk di warung di dekat pondokan. Untung masih ada sisa nasi di rice cooker. Jadilah saya makan pagi dengan perkedel jagung dan tahu kecap, dengan nasi tentunya. Karena hari ini jadwal kuliah padat, dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, makanya saya harus mengisi perut. Nah, lagi-lagi karena merasa tidak cukup tidur, saya pun menambah teman buat makanan saya, yaitu kopi. Tapi ini kopi bukan sembarang kopi lho! Namanya Korean Ginseng Coffee, yang dibeli Mama waktu saya pulang Natalan di kampung halaman. Katanya sih, kopi yang satu ini punya banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Sepertinya sih begitu, karena memang harganya jauh lebih mahal dari kopi-kopi biasanya.
Ini nih kopinya...
Karena tidak tahu akan kuliah di ruangan mana, saya pun meng-sms Liry dan Jejen, yang juga mengambil mata kuliah Produksi Media Cetak.
Saya: Di ruangan mana kul, syg?? (message sent)
Air di dalam belanga, di atas kompor, sudah mendidih. Dan jadilah mandi air hangat yang menyenangkan di pagi hari (backsound: suara percikan air yang disiram dari atas kepala.. byuurrr,,byuurrrr)
Jam 8 kurang 5 menit, saya selesai mandi dan langsung menata diri, dari kepala sampai kaki. (eh, ada sms tawwa…)
Liry: hehe, bruka tba ni, nda tw jg dmna ruangnx.
[ mukaku>> :( ]
Eh, ada 1 lagi smsnya.
Liry: 107 hen. . .
Dan saya langsung merespon dalam hati: ooowww….
Pukul 08.15, saya pun cabut ke kampus dengan badan yang sudah lumayan segar. Untung Pak Gaffar belum masuk, teman-teman pun baru 6 orang yang datang di ruang 107 itu.
Namun, beberapa menit kemudian, saat kami sedang asyik bersenda gurau dan bercanda ria, pak Gaffar pun muncul di depan pintu. Seperti biasanya, penampilan dosen yang satu ini bisa dikatakan gaul getoh. Dengan lengan baju yang dilipat sampai di atas siku dan 3 kancing baju terbuka di bagian atas (kuperhatikannya, haha) beliau pun mengambil posisi di bangku dosen.
Seperti biasanya lagi, pak Gaffar mengajar dengan cara bercerita yang hampir seluruhnya adalah pengalaman hidupnya, sebagai seorang wartawan tentunya. Namun, pagi tadi beliau lebih banyak membahas tentang apa yang akan kami lakukan dalam mata kuliah tersebut. Kami akan membuat tabloid yang akan terbit di akhir semester nanti. Dan yang paling banyak dibicarakan tadi ialah soal biaya produksi.
Memang ya, uang itu takkan pernah jauh-jauh dari kehidupan manusia. Apalagi mahasiswa, biaya inilah, biaya itulah. Pokoknya bisa bikin orang sampai pusing tujuh putaran karena memikirkannya. Lagi-lagi orang tualah yang harus berusaha keras memenuhi semua kebutuhan itu (jadi sedih, ingat orang tua di rumah. T_T huhuhu).
Money, money, money.....
Nah, kembali ke kuliah. Setelah berapat-rapat redaksi ria di ruang 107, kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk kuliah berikutnya, Kajian Masyarakat Maritim. Sampai di ruangan A1, saya pun langsung mengambil posisi duduk di sebelah Dewi. Beberapa menit kemudian, ruangan kelas jadi penuh sesak. Padahal daya tampungnya bisa sampai sekitar 60 orang, tapi masih ada juga yang tidak kebagian kursi. Kok bisa? Ternyata dalam ruangan itu ada tiga jurusan, ciiinntt.. Komunikasi 08, Sosiologi 07 dan 08, serta Antropologi 09. Ckckckck. Pantas saja!
Suasana kelas pun jadi kacau balau (lagi2 lebai). Banyak yang tidak mendengarkan penjelasan dosen di depan. Ada yang ngobrol (mungkin bergosip, hehe), ada yang mengetik-ngetik handphone-nya, ada yang foto-foto, ada yang masak, ada yang main sulap, ada yang salto (lho kok?) hahaha….
Saya pun salah satu pelakunya, kecuali yang tiga terakhir disebutkan. Saya mengganggu Dewi dengan pertanyaan-pertanyaan saya, padahal dia sedang belajar untuk tes kursusnya (sama jie tidak mendengarkan bapaknya, hehe). Jika tidak sedang ngobrol, saya pun mencorat-coret notes saya sambil sedikit-sedikit mendengarkan sang dosen menjelaskan pengantar mata kuliah tersebut. Saya juga mengambil beberapa gambar dengan HP saya yang layarnya sudah memutih itu (bukan rambutnya nah). Walaupun kameranya tak terlalu bagus, inilah hasilnya…..
Suasana kelas yang padat. Ini hanya 1/3-nya lho..
Tuh kan... banyak yg ngobrol tuh.. hehehe
Hasil karya saya di notes... hihihi
Namun, tiba-tiba datanglah seorang malaikat! Hehehe. Bukanlaaah!! Seorang dosen yang sudah mulai memutih rambutnya (nah, ini baru rambut) datang membawa kabar gembira. Ternyata, mahasiswa dari jurusan Sosiologi berada di bawah asuhannya. Jadilah ruangan itu jadi semakin ribut karena anak-anak Sosiologi yang berdesak-desakkan keluar ruangan.
Sekitar pukul 11.30, perkuliahan pun berakhir. Next destination: pelataran Baruga. Soalnya tadi pagi saya mendapat sms dari Titin bahwa akan diadakan rapat untuk kegiatan di hari raya Paskah nanti. Namun sampai di Baruga, saya bertemu Liry dan juga Maya yang pada saat itu berjalan dengan gaya pincangnya. Yup, Maya baru terkena musibah. Ia terjatuh saat berjalan di tangga kapal. Pembuluh darah di kakinya pecah, yang mengakibatkan dia tidak bisa berjalan normal. Kami pun mengantarnya ke depan fakultas, karena pada saat itu ia hendak kembali ke kosnya. Sesekali kami memapahnya saat menuruni tangga atau melewati jalan yang menurun. Setelah menyaksikan Maya menaiki boncengan motor sang tukang ojek dengan susah payah, kami pun kembali ke Baruga.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, muncullah teman-teman pengurus PMKO yang akan mengikuti rapat. Rapat pun dimulai dengan doa dan dilanjutkan dengan membahas segala sesuatunya. Karena rapatnya tidak terlalu formal, kami pun membahas ‘segala sesuatunya’ itu dengan diselingi candaan sana-sini, ketawa sana-sini, jungkir-balik sana sini (eh, datang mi gilanya lagi, haha).
Jam 1 siang pun tiba. Rapat pun ditutup karena sebagian besar peserta rapat harus kuliah (ditutup dengan doa tentunya). Saya dan Liry langsung menuju ke ruang 206 untuk mengikuti mata kuliah Produksi Siaran. Kepalaku melongok ke dalam ruangan. Kok kosong? Ternyata teman-teman yang lain sedang nongkrong di Korps (ngapamie pengurus, hehe). Kami pun ikutan nongkrong di dalam Korps.
Setelah berada di dalam sekitar 20 menit dan mendengar keluh-kesah Sabda yang terlambat mengantarkan makanan untuk someone special-nya di bandara, kami pun menuju ke kelas karena dosen favoritku sudah tiba. Yup, Pak Mulyadi adalah salah satu dosen favoritku. Cara beliau memberikan pengajaran yang santai tapi serius membuat saya menyukainya. Beliau juga memiliki prinsip untuk selalu mendahulukan mahasiswa. Mahasiswa perlu mendapat ‘pelayanan’ yang baik, karena mahasiswalah yang membiayai berbagai keperluan untuk kemajuan kampus. Cara berpakaiannya pun begitu sederhana, namun wibawanya tetap terlihat. Jaket hitamnya selalu menemani keseharian beliau di kampus. Beliau benar-benar memberikan pengaruh positif bagi mahasiswanya.
Pak Mul saat mengajar mata kuliah Jurnalistik Siaran..
Dalam kuliah tersebut, Pak Mul, begitu sapaan akrabnya, memberikan penjelasan awal tentang mata kuliah Produksi Siaran. Beliau akan mengajar kami untuk memproduksi siaran radio, yaitu sampai mid semester. Kemudian dilanjutkan oleh bang Sonni, yang juga dosen favorit saya, yang akan membimbing kami untuk memproduksi siaran televisi.
Walaupun mata kuliah wajib untuk program studi Jurnalistik kadang terasa begitu sulit, namun ada rasa senang dan bangga di hati ini, terutama ketika kita dapat menghasilkan suatu karya tertentu. Semoga di semester ini saya akan semakin giat kuliah dan kembali menghasilkan karya-karya yang penuh dengan kreatifitas. Amin….
Nah, sekian dulu ya untuk hari ini.. (capek mi tanganku mengetik) hehehe….. ^___^
*kamar08_sheila, 080211
Ket: gambar uangnya didonlod dari Google, gambar Pak Mul dari FB beliau... (maap ya sy ambil, Pak^^)
Itulah harapanku kemarin malam, saat mengetahui bahwa kuliah perdana saya di semester ini jam 8 pagi. Itupun saya pikir mata kuliahnya itu Kajian Masyarakat Maritim, tapi ternyata Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. (haha, ongol!)
Namun, apa yang terjadi saudara-saudara???
Ternyata sampai jam 5 pagi, saya belum bisa menutup mata. Sebenarnya saya sudah menghentikan kegiatan online saya pada pukul 02.00 dan langsung melompat ke tempat tidur (tupai kaleee…). Tapi kedua mata saya yang katanya agak sipit ini (katanyaaa), tidak mau tertutup. Mau sih sebenarnya, tapi dipaksa! Dan walaupun saya paksa, teteeeppp, yuuuuuu…..
Saya pun loncat dari tempat tidur (lagi2 tupai beraksi) dan kembali menekan tombol on-nya si Pico. Maka jadilah seturut dengan kehendak saya. Hehehe.
Kira-kira jam 3, saya melompat lagi ke pohon, eh, ke tempat tidur maksudnya. Tapi apa daya, mata tak sampai. Saya masih belum bisa tidur… uuuuuggghhh…. Betul-betul dongkol hati ini!
Maunya sih kayak giniii...
Tapi malah jadi beginiii.. (lho kok Suzana???) haha
Pukul 04.30 alias setengah 5, mata ini masih saja kokoh tak tergoyahkan. Padahal adzan subuh sudah berkumandang, tandanya pagi telah tiba.
Akhirnya, dengan susah payah saya pun kembali berusaha mengalahkan kekuatan mata saya. Dan mereka pun kalah pada jam 5 pagi. Huahahahahaha…
Dan apa yang terjadi selanjutnya, saudara-saudara???
Alarm yang saya pasang jam setengah 7 di ke dua HP saya, tidak ada gunanya. You know saya bangun jam berapa?? Jam setengah 12, saudara-saudara. Bangun pun bukannya langsung siap-siap untuk kuliah jam 1, eehh, malah lanjut online lagi. (pengaruh buruk internet yang saya akui. Baca:: Coretan dini hari)
And finally, saya terlambat masuk kuliah. Untung Pak Sudirman-nya baik karena masih mengijinkan saya masuk. Hehehehe. (jangan ditiru ya, saudara-saudara)
Pukul 01.36 dini hari. Saya belum bisa menutup mata di pembaringan. Alhasil, saya beranjak dari tempat tidur dan kembali menghidupkan si Pico dan hendak berselancar di dunia maya. Namun, ternyata jaringan internet tidak mendukung niatku.:(
Namun, saya tak patah semangat. Berulang kali saya men-connect dan men-disconnect modem dengan harapan jaringan bisa kembali mendukung niatku. Tapi, apa boleh buat? Jaringannya tetap bersikukuh untuk tidak mewujudkan niatku. Ingin memaki gak mungkin. That’s something unuseful, isn’t that?
Sebenarnya , saya bersyukur karena akhirnya diberikan modal oleh Bunda untuk membeli benda yang sangat membantu ini. Terutama untuk kehidupan sosialku di dunia maya. Hehehe. You know lah, sekarang kan udah jamannya bergaul di internet tanpa harus bertemu langsung dengan ‘teman gaul’ itu sendiri. Sekali klik, pintu untuk berselancar ke mana saja langsung terbuka.
Ada yang bilang, internetan itu membawa banyak pengaruh buruk. Terutama bagi
kalangan remaja dan anak-anak. Saya kurang setuju dengan hal itu. Kecuali 1 hal, dan saya sangat setuju dengan hal itu. Saya jadi malas melakukan aktivitas yang lain kalau sudah duduk tenang di depan monitor canggih ini. Hehehehe..
Nah, sekali lagi tak selamanya internet itu membawa pengaruh buruk. Contohnya, kalau saya lagi gak punya pulsa, saya tinggal chatting or nulis di wall or send message ke orang yang ingin saya hubungi. Contoh lainnya, saya kan bergabung di beberapa group tuh di FB. Jadi, setiap ada kegiatan ataupun informasi tertentu, saya bisa langsung tahu dengan hanya membuka FB tanpa perlu nanya sana-sini. Nah, apalagi kalau lagi ada tugas kuliah. Tinggal buka alamat google, trus searching deh!
Tuh kan! Internet punya banyak manfaat positif kok. Tapi ingat, seperti yang dikatakan dosen mata kuliah Komunikasi Antarpribadi, komunikasi secara langsung atau tatap muka itu akan memberikan efek atau hasil yang lebih baik. Tentu saja kan kalau lagi punya masalah dengan orang, sebaiknya kita bicarakan secara langsung. Karena dengan demikian, kita bisa tahu apakah orang yang kita ajak berkomunikasi itu berkata jujur atau tidak dari ekspresi wajahnya (aiihh, dtg mi penyakit sok ngajarku haha)..
Jadi, kesimpulannya:
#Internetan itu bukanlah sesuatu yang buruk..
#Komunikasi tatap muka itu penting!
#Kapan saya tidur kalau begini teruuss??? Hahahaha… Gud morning deh klo gitu.. ^__^
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya beberapa bulan yang lalu…. ^^
Selain sebagai mahasiswa aktif di Universitas Hasanuddin, saya juga aktif di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yaitu PSM Unhas. Eit, jangan salah kaprah dulu! Ini bukan PSM yang suka main bola itu, tapi ini PSM yang suka nyanyi alias Paduan Suara Mahasiswa. Hehehe. Saya dinyatakan resmi menjadi anggota di PSM sejak Februari 2010. Saya sempat mengikuti audisi PSM pada tahun 2008. Namun mungkin belum rejeki saya karena waktu itu saya tidak lolos, bahkan di audisi pertama.Hehehe.
Sejak bergabung di PSM, saya mendapat banyak pengalaman berharga. Terutama teknik bernyanyi yang baru saya pelajari, yaitu choral dan folklore.
Puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk mengikuti kompetisi nasional, yaitu Pesparawi Mahasiswa Tingkat Nasional XI Tahun 2010. Dengan jumlah anggota tim ±30 orang, kami pun menjalani latihan, yang bisa dibilang cukup berat, selama beberapa bulan. Banyak hal yang terjadi dan yang kami dapatkan selama beberapa bulan tersebut. Mulai dari latihan vocal dan tari yang melelahkan, sampai pada waktu kami harus merelakan 2 orang anggota tim yang harus keluar karena akan mengikuti kompetisi Suara Indonesia. Saya bahkan harus puasa bicara selama 4 hari. Karena terlalu banyak bernyanyi, pita suara saya sampai bengkak dan suara pun jadi serak.
Tiba saatnya kami berangkat ke kota Palangkaraya, tempat dimana kompetisi tersebut akan dihelat. Bandara Sultan Hasanuddin menjadi saksi keberangkatan kami dengan pesawat Sriwijaya Air di sore hari yang mendung, 17 Oktober 2010. Dengan seragam kaos berwarna biru, kami pun berangkat dengan sejuta harapan akan kesuksesan di pulau Borneo itu.
Ternyata kami tidak langsung sampai di kota Palangkaraya. Kami harus transit di Bandara Sepinggan Balikpapan dan mendarat lagi di Bandara Samsyudin Noor Banjarmasin. Dari Banjarmasin kami harus naik bus selama ± 4 jam untuk sampai di kota Palangkaraya. Sekitar pukul 01.00 malam, kami tiba di kota Palangkaraya dan langsung ke tempat penginapan di mess LPMP Kalteng.
Ada satu hal yang unik (menurut saya) di kota Palangkaraya. Karena berada di perbatasan antara WIB dengan WITA, kita sudah dapat melihat sinar mentari pada jam 5 pagi. Seandainya di Makassar seperti itu, mungkin saya bisa bangun lebih cepat. Hehehe..
Banyak perbedaan antara kota Makassar dengan Palangkaraya. Selama berada di kota Palangkaraya, saya tidak pernah menemukan yang namanya kemacetan. Kota Palangkaraya masih begitu asri. Pohon-pohon masih tumbuh subur dan memberikan kesejukan di kota itu. Menurutku, kota itu pantas dijadikan ibu kota negara, sebagai pusat pemerintahan negeri ini.
Kembali ke kompetisi.
Lomba paduan suaranya sendiri diadakan selama 3 hari, yakni tanggal 20-22 Oktober 2010. Dan selama 2 hari sebelum lomba dilaksanakan, kami kembali melakukan latihan, baik di tempat yang disediakan panitia, yakni gedung Gereja Moria, maupun di tempat kami menginap. Kami pun sempat melaksanakan gladi di gedung Tambun Bungai, tempat perhelatan kompetisi 2 tahun sekali ini. Oh ya, Pesparawi kali ini diikuti oleh 38 universitas dari seluruh penjuru Indonesia.
Kompetisi pun dimulai.
Hari pertama. Rabu, 20 Oktober 2010. Kategori Musica Scara.
Kami mendapat nomor undian 24, yang artinya kami tampil sore hari. Kami tampak cantik dan menawan dengan gaun putih tanpa lengan yang begitu elegan, rambut tersanggul rapi, dan high heels berwarna hitam. Begitu pula dengan jas dan dasi pita yang dikenakan oleh para pria, membuat mereka terlihat begitu gagah. Kami pun tampil membawakan 3 buah lagu, yakni Kudengar SuaraMu, Tuhan, And The Glory Of The Lord, dan The Lord Bless You And Keep You. Awalnya saya merasa gugup, namun setelah beberapa saat berdiri di atas panggung saya pun akhirnya bisa menyesuaikan diri.
Hari ke dua. Kamis, 21 Oktober 2010. Kategori Gospel.
Di kategori ini, kami mendapat nomor undian 36. Jadi kami tampil pada malam hari, sekitar jam 10. Kami membawakan 2 lagu, yaitu Ain’t A That Good News dan Elijah Rock. Malam itu penampilan PSM Unhas sangat berbeda dari peserta-peserta lain. Kami tampil dengan kulit yang begitu coklat dan para wanita dengan rambut keriting yang menjuntai. Negro style, cuiiinttt! Hehehe. Ditambah lagi dengan pakaian kami yang berwarna ungu lengkap dengan payet-payet berwarna perak dan bando yang juga berwarna perak melekat di kepala PSM ladies. That was really Negroid and sparkling night! Hehehe..
Hari ke tiga. Jumat, 22 Oktober 2010. Kategori Folklore.
Karena kami mendapat nomor undian ke 6, maka sejak pagi hari kami sudah bersiap-siap. Saya bersama tiga penyanyi alto lainnya mengenakan pakaian adat Dayak, lengkap dengan bulu yang panjangnya hampir 1 meter yang melekat di kepala kami. Sedangkan yang lainnya mengenakan pakaian adat Bugis berwarna cerah dan berkilau. Wow! Ternyata pakaian kami saat itu lebih sparkling dari penampilan malam sebelumnya. Mungkin jika kami tampil malam hari, maka panggung gedung Tambun Bungai pasti akan terlihat sangat berkilau. Hehehe. Lagu yang kami tampilkan pada saat itu adalah Oh, Adingkuh (lagu etnik Kalteng) dan Ma'rencong-rencong (lagu etnik Makassar). Tidak hanya bernyanyi, kami juga menari di sepanjang lagu. Kami benar-benar memukau para penonton pagi itu. Hal itu terlihat dari tepuk tangan dan riuh suara penonton setelah kami menampilkan lagu pertama dan ke dua. Kami pun merasa tampil sangat maksimal saat itu. I thought, that was a great performance! :)
Sebelum penutupan dan pengumuman hasil lomba selama tiga hari tersebut, kami pun mengikuti kegiatan susur sungai Kahayan yang diadakan oleh panitia. Malam sebelumnya, yakni Jumat malam, saya terserang demam. Walaupun demikian, saya tetap ikut bersama anggota tim yang lain menyusuri sungai Kahayan. Dengan kapal berukuran sedang, kami pun menyusuri sungai Kahayan sore itu. Akhirnya, saya pun tidak bisa mengikuti penutupan pada malam harinya karena kondisi tubuh yang semakin parah.
Sekitar pukul 01.00 malam, anggota tim PSM yang mengikuti acara penutupan kembali ke tempat penginapan. Saya tak sabar mendengar hasil dari usaha kami selama berbulan-bulan. Dan hasilnya adalah sebagai berikut: untuk kategori Musica Sacra dan Gospel kami mendapat Silver Medal, sedang untuk kategori Folklore kami mendapat Gold Medal. Ada sedikit kekecewaan di hati, karena saya merasa penampilan folklore kami pantas untuk mendapatkan posisi pertama Gold Medal. Namun, apa boleh dikata, kami hanya peserta. Kami bukanlah juri yang menuliskan hasil penilaiannya di atas kertas.
Minggu pagi, tepat di hari ulang tahunku, 24 Oktober 2010, kami mengikuti ibadah Minggu di Gereja Toraja Palangkaraya. Pada ibadah tersebut, kami kembali membawakan dua buah lagu yang kami tampilkan di kompetisi. Sore harinya, kami beramai-ramai mengunjungi pusat oleh-oleh di jalan Batam. Dengan modal yang sangat minim, saya pun membeli beberapa barang sebagai oleh-oleh untuk teman-teman di Makassar.
Pukul 01.00 malam, 25 Oktober 2010, kami berangkat dengan menggunakan bus menuju kota Banjarmasin. Namun, sebelum ke bandara, kami menyempatkan waktu untuk berbelanja di Martapura. Pukul 02.00 siang, kami take-off dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Setelah transit di Bandara Sepinggan Balikpapan, kami pun tiba di Bandara Sultan Hasanuddin sekitar jam 5 sore.
Demam pun kembali menyerangku malam itu. Walaupun demikian, saya sudah melewati banyak hal selama seminggu dan itu merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku.
Satu hal penting yang saya dapatkan dari sepanjang proses latihan sampai pada kompetisi, yaitu kebersamaan. Alangkah bahagianya saya karena telah bertemu dan berbagi dengan teman-teman anggota tim Pesparawi 2010. Mungkin kita berbeda-beda, bahkan mungkin ada konflik yang pernah terjadi di antara kita. Namun, karena kebersamaan itulah sehingga kita dapat memberikan penampilan yang terbaik saat kompetisi. Bukan hanya itu, saat saya sedang sakit pun, kalian terus memberikan perhatian kepada saya. Saat ada yang sedang dalam masalah, kita tetap saling mendukung. Thank’s for all, my friends. God always bless and be with you… ^__^
*kamar08_sheila, 030211
Di depan rektorat, siap2 menuju bandara..
@Bandara Sultan Hasanuddin, diantar sm anak2 PSM yg lain.. ^^
Sambil nunggu tiket, poto dulu sm duet mautku...hehe
Transit skalian numpang poto (with Pade' n Ce2 Evelyn)
Sampe di Banjarmasin,, siap2 naik bus...
Ini dia tempat kami menginap selama di Palangkaraya.
Gladi @gedung Tambun Bungai..
@gedung Gereja Moria.. Latihan, latihan,,,
Pasangan serasi nih kayaknya,,, ^^
Ehm, ehm... Just like a princess, isn't it?? (narsis)
Penampilan perdana...
cantik2nya semuaaa....
Weeettsss.. mantap, ciiintt..
Hahaha.. Hati2, ada nenek sihir!!!
Poto bareng cewe2 UPH (klo nd salah) di Siaga 3..
Negro abiiizzz... ^^
Permisiiii.. Gadis Dayak mau lewat.. hihihi
Penampilan yg sangat DAHSYAT!! :)
Canti'naaaa......
Gadis2 Dayak bajakan mau pergi mandui kan sungei.. ^_^
Poto bareng peserta dr Papua dan Tomohon
God loves Indonesia..
Duet maut beraksi di stand panitia.. haha
Ini die peserta dr Jakarte,, (krg Ondel2 ini)..
@dermaga Sungai Kahayan
Sungai Kahayan, ciiintt.. (org sakit sempat2nya poto)..
Ada yang baru kusadari malam ini. Aku bukanlah sahabat yang baik untuk sahabatku sendiri. Aku baru tahu keadaanmu saat ini, itu pun bahkan dari orang lain. Sakit! Sakit rasanya hati ini saat mengetahui bahwa keadaanmu “tidak baik-baik saja”. Sakit rasanya hati ini saat menyadari bahwa aku bukanlah seorang sahabat yang setia.
Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kita bertemu. Aku bahkan tak pernah lagi menanyakan kabarmu. Aku tak tahu apa yang kau gumuli saat ini. Aku tak pernah tahu bahwa kau sedang memikul beban yang sangat berat.
Ternyata sejak peristiwa itu kau tidak lagi seperti dulu. Hidupmu tak sebahagia saat kita masih bersama dulu. Bahkan tak sebahagia saat kau duduk di pelaminan bersama orang yang kau cintai. Mungkin kini raut wajahmu tidak semanis dulu, karena kau harus mengurus pasangan hidupmu dan juga buah hati kalian dalam kondisimu yang seperti itu.
Rasa bersalah pun kini merasuk di dalam hati. Aku sadar, aku tak pernah berbuat apa-apa untuk membantumu, sahabatku. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan teman-teman baruku. Aku egois! Egois padamu, sahabatku…
Aku selalu berniat menemuimu saat kembali ke Poso. Tapi, sekali lagi ‘aku bukan sahabat yang baik’. Aku tak berusaha mencari jalan keluar agar bisa menemuimu.
Mungkin aku tak layak kau panggil sahabat. Apalah artinya sahabat jika kesedihanmu tak pernah kurasakan.
Maafkan aku, sahabatku!
MAAF! MAAF! MAAF!
Mungkin seribu maaf pun tak dapat menghapus rasa bersalahku padamu.
Tapi, satu yang kuyakini bahwa meskipun orang-orang di sekitarmu menjauh dan pergi, namun Dia Yang Maha Pengasih tidak akan pernah meninggalkanmu, sahabatku.. I miss u :(
Hmmm… Tak tahu harus mulai dari mana dan mau membahas apa. Sebenarnya kemampuan menulis saya yang standarlah membuat yang membuat kebingungan di atas terjadi. Hehehe…
Ok, lanjut saja yah!!!
Saya ingin bercerita sedikit tentang diri saya. Saat ini, saya sedang menjalani pendidikan di Ilmu Komunikasi, yang seperti kita tahu bersama bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi adalah orang-orang yang seharusnya memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan tentu saja didukung oleh rasa percaya diri yang tinggi. Dan hal yang terakhir saya sebut tadi adalah hal yang sampai saat ini belum saya miliki, yang akhirnya juga membuat saya belum memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, terutama dalam bentuk lisan. Bayangkan, sekarang saya sudah memasuki semester 6 dan sampai saat ini saya masih saja tidak merasa pantas berada di jurusan ini. Tapi, apa boleh buat, sekali lagi karena tidak percaya diri itulah yang membuat saya pasrah dan tetap bertahan di sini alias tidak mau mencoba hal baru alias pindah jurusan atau sekalian pindah kampus…
Saya sadar bahwa banyak hal yang mengakibatkan hal itu terjadi dan semuanya hanya karena sikap dan perbuatan saya sendiri. Banyak kesempatan di depan mata yang tidak saya manfaatkan. Saya takut salah, yang mengakibatkan saya tidak berani mencoba. Sekali dua kali saya melakukannya, namun itu tidak cukup untuk membuat saya menjadi seorang yang percaya diri.
TAKUT SALAH!!! Mungkin itulah ‘kesalahan pemikiran yang besar’ yang pernah saya lakukan. Saya pernah bertanya pada seorang motivator muda Indonesia, Bong Chandra, melalui sebuah situs jejaring sosial tentang apa yang harus saya lakukan agar saya bisa percaya diri. Ia pun menjawab begini: “Miliki jam terbang dan jangan takut salah. Ingat, jika kita salah kita hanya malu beberapa menit saja.”
Nah, itu dia! Sekali lagi, kalau perlu saya garis bawahi, TAKUT SALAH!!! Meskipun hanya malu beberapa menit saja, namun rasanya seumur hidup, bahkan matipun rasanya masih akan diingat oleh orang lain. Jujur, saya sempat stress dan benar-benar putus asa menghadapi hal ini. Berulang kali, saat saya sedang merenung di kamar kost, saya menggumuli hal itu. Saya menangis! Ya, saya mengeluarkan air mata. Mungkin orang berpikir bahwa saya adalah seorang yang terlalu cengeng. Tidak, bukan itu! Saya menangis karena ingin melepaskan beban itu. Menangis karena ingin menghilangkan, walaupun mungkin hanya sedikit, rasa ‘sakit’ akibat tak mampunya saya menjadikan rasa percaya diri itu sebagai milik saya. Itulah mengapa judul tulisan saya ini seperti yang tertera di atas, Because I don’t have it yet!
Saya tetap berharap, Tuhan akan memberikan jalan untuk menemukan dimana sesungguhnya letak rasa percaya diri itu, untuk kuraih dan kujadikan milikku sebagai modal bagi masa depanku, yang jika Tuhan berkenan akan menjadi ‘cerah’. Amin….